Sudah agak basi sih, tapi sah aja kan uneg2?
Setelah tiga tahun sepi berita, kembali sekolah ‘pencetak pemimpin bangsa’ menjadi sorotan gara-gara ada praja (siswa) yang tewas akibat katanya aniaya dari seniornya.
Menigikuti beritanya di media massa cetak maupun elektronik, isteri saya sampai gemes, apalagi ada fakta-fakta lain yang terungkap. Dari sebenarnya ada sekian korban yang sudah tewas, sekian melarikan diri, sampai penyuntikan formalin ke jenazah praja untuk menutupi jejak.
Sebenarnya ke arah mana tujuan negeri ini? Apakah negeri ini akan dibuat ngeri oleh praktek-praktek premanisme?
Kata kakak teman saya, IPDN maunya meniru disiplin militernya AKMIL, tapi berhubung yang nglakoni sipil, maka mereka tidak tahu (atau tidak mau tahu) batasan-batasan. Dan lagi karena mereka di asrama, sehingga rentan terjadi konflik.. Lha wong ketemunya itu-ituuu terus.. Kalo baru sebel, ketemu lagi pasti tambah sebel to?
Sekarang terserah SBY (pemerintah) mo gimana. Langkah awalnya lumayan..
Pertanyaannya, setelah satahun vakum adakah yang mau mendaftar? Mungkin karena iming-iming ikatan dinas? Time will tell… jangan sampai deh jadi Institut Preman Dalam Ngeri, tapi Institut Pengayom Dalam Negeri